HeWi foundation control office :

Gubug HeWi foundation
Dsn. Pajangan RT 01 RW 16, Wedomartani, Kec Ngemplak, Kab Sleman.
D.I.Yogyakarta Indonesia
c.p 081578832020 / 085643830602
e-mail : hewifoundation@gmail.com

Sabtu, 01 Maret 2014

Bantu Rizal yuk!




Adalah Esa Fahrizal Maulana atau sering dipanggil Rizal, siswa kelas VI SD Negeri Depok 2 kecamatan Depok, kabupaten Sleman, Yogyakarta.  Disaat akan menghadapi ujian kelulusan ia harus terbaring lemas di rumah sakit dr. Sarjito Yogyakarta. Sudah lebih dari dua minggu Rizal dirawat di bangsal kelas III, Melati IV. Saat kami mengunjungi Rizal, menurut ayahnya yang hanya seorang kuli bangunan mengatakan bahwa kondisi putranya tak kunjung membaik setelah dilakukan operasi pemasangan selang dari otak menuju ke lambung untuk mengeluarkan cairan yang ada dalam otaknya. Hasil diagnosa menyatakan bahwa Rizal mengalami kelebihan cairan di otak namun bukan hydrocepalus melainkan suatu gangguan yang dokter sendiri belum tahu apa penyebabnya (saat ini masih dilakukan observasi apa penyebab penyakit tersebut), sehingga menyebabkan kesadaran Rizal menurun, dan kemampuan tubuhnya untuk melakukan reaksi juga menjadi lambat.
Tak hanya itu, efek pasca operasi mengakibatkan Rizal kesusahan untuk menggerakkan tubuhnya, bahkan untuk mengunyah dan menelan makanan pun tidak bisa dan untuk duduk saja harus disangga oleh ayahnya, jika tidak maka tubuhnya akan lunglai tak berdaya. Beruntung bahwa ayah Rizal sangat sabar dan perhatian pada putranya. Ia mengatakan bahwa hal ini adalah cobaan dan harus diterima dengan ikhlas. Dengan kegigihan dan keikhlasan bapak Suroso (ayah dari Fahrizal) membuat siapapun akan merasa iba mengingat latar belakang pendidikan dan ekonominya yang hanya pas-pasan.
Ditambah melihat kondisi yang seperti itu pantas rasanya bagi kita semua yang memiliki jiwa sosial yang tinggi untuk sedikit menyisihkan sebagian rejekinya demi meringankan beban bapak Suroso dan putranya. Perlu kita semua ketahui bahwa biaya yang harus ditanggung untuk perawatan Rizal tidaklah sedikit apalagi dengan penghasilan orang tuanya yang tidak menentu membuat beban yang harus ditanggung semakin berat. Selang yang dipasang seumur hidup didalam tubuh Rizal mengharuskan dilakukan penyesuaian mengingat usia Rizal yang masih mengalami pertumbuhan. Dengan dilakukannya penyesuaian tersebut sama artinya Rizal harus menghadapi operasi yang tentu saja biayanya tidak sedikit.
                Bagi para dermawan yang ingin berdonasi dapat langsung  menyampaikan donasi Anda sendiri atau bisa melalui HeWi foundation dengan no rek.042.221.001054 BPD DIY a.n Henny Susilowati. Berapapun donasi yang Anda sumbangkan akan kami terima dan kami salurkan tanpa ada pengurangan. Karena berapapun nominal yang Anda sumbangkan akan sangat berarti bagi bapak Suroso dan keluarganya.

Profil Rizal
Nama                 : Esa Fahrizal Maulana
Pekerjaan           : Pelajar kelas VI SDN Depok 2 Sleman
Usia                    : 12 tahun
Nama Ayah        : Suroso
Pekerjaan           : Kuli bangunan
Penghasilan         : Tidak menentu
Alamat                : Kradenan RT II RW 69 Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta
Info lebih lanjut hubungi :
Henny 0856 4383 0602 / PIN BB 7A703F74
Widi 0815 7883 2020

Kamis, 27 Februari 2014

HeWi foundation program

HeWi foundation for leg amputation
adalah program bantuan bagi para penyandang disabilitas khususnya amputasi kaki
meliputi : bantuan kaki palsu, program kemandirian, bantuan motivasi
HeWi foundation for children care
adalah program bantuan untuk anak-anak
meliputi : bantuan untuk pengobatan, bantuan siswa miskin, dll
HeWi foundation for humanity
adalah program bagi sesama yang sedang tertimpa musibah/bencana.
meliputi : bantuan dana, bantuan barang

Selasa, 11 Februari 2014

Derita si Kaki Putung




SUDAH JATUH MASIH TERTIMPA TANGGA itulah ungkapan yang cocok bagi para penyandandang disabilitas khususnya amputasi kaki. Kami atau bahkan semua orang di dunia ini pasti tidak ada yang ingin mengalami kehilangan kaki atau anggota badan yang lainnya. Tapi takdir berkata lain, sejatinya kami selalu mengikhlaskan apa yang menjadi kehendakNya. Namun terkadang ada hal yang dapat mengurangi keikhlasan kami. Salah satu hal tersebut adalah masih terlalu mahalnya harga peralatan yang seharusnya dapat membantu kami dalam beraktifitas, semisal kaki palsu.
                Harga alat bantu (kaki palsu) yang terlalu tinggi, menjadikan kaum kami merasa enggan untuk memakainya dan hanya pasrah dengan keadaan. Perlu diketahui bahwa rata-rata harga kaki palsu kualitas biasa yaitu Rp 1,5 – Rp 2 juta dengan jangka waktu pemakaian 2-3 tahun. Coba Anda bayangkan jika ada pengguna kaki palsu yang baru berusia 20 tahun. Mari kita hitung.

Rata-rata usia manusia 60 tahun.

Sehingga sisa usia tinggal 40 tahun, jika masa penggunaan kaki palsu 3 tahun, maka :

40 thn : 3 = 13,3 dibulatkan menjadi 13.

Maka ia harus mengganti kaki palsunya sebanyak 13 kali

Jika dihitung rupiahnya, maka dana yang harus dikeluarkan yaitu Rp 2.000.000 x 13 = Rp 26.000.000,-

Sebuah angka yang cukup fantastis, terlebih jika bagi orang yang ekonominya pas-pasan.
                Menurut survey di lapangan, tidak sedikit para penderita amputasi kaki yang hidup dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan. Mereka harus berpikir 2x untuk dapat memiliki kaki palsu. Perhitungan di atas hanya didasarkan pada harga standar untuk kaki palsu ukuran lutut ke bawah, bagaimana dengan kaki palsu dengan ukuran sampai paha? Tentu harganya lebih mahal 2 kali lipat. Belum lagi jika materialnya ada yang impor, maka harga yang dipatok tentu akan sangat jauh melambung tinggi. Bahkan ada kaki palsu ukuran sampai paha yang harganya  sama dengan harga mobil Avanza baru. Sungguh sangat ironis, dimana para penyandang disabilitas yang hidupnya sudah menderita masih ditambah lagi dengan harga alat bantu yang seyogyanya dapat membantu beraktifitas tapi tak mampu dijangkau karena harga yang mahal.

                Maka kami mengajak saudara-saudara yang bernasib sama tetapi memiliki finansial yang berkecukupan atau bahkan lebih untuk dapat membantu sesama. Seperti halnya sebuah ungkapan “Mulailah Dari Diri Sendiri” kita sesama crew kapal (kaki palsu-red) sebutan untuk pemakai kaki palsu bisa saling membantu melalui subsidi silang agar saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan ekonomi dapat memiliki kaki palsu untuk dapat beraktifitas dalam meningkatkan taraf hidup mereka. Syukur-syukur kami mengetuk para dermawan yang mau membantu kami dalam melakukan misi peningkatan kesejahteraan bagi para pengguna kaki palsu.

Kamis, 04 Oktober 2012

Ceritaku.....




Perkenalkan buat yang belum tahu namaku Widi, aku lahir di Purworejo 28 tahun yang lalu. Sekarang aku tinggal di Sleman,Yogyakarta bersama istriku (Henny)yang aku nikahi 3 tahun yang lalu. Kesibukanku setiap hari mengajar anak-anak di SD N Depok 1 dan syukur alhamdulilah sekarang sudah diangkat menjadi PNS. Mungkin bagi sebagian besar orang, menjadi seorang PNS adalah hal yang biasa. Namun bagiku hal tersebut sangat luarbiasa mengingat banyak sekali orang-orang yang sepertiku sangat susah mendapatkan pekerjaan yang layak. Mungkin kalian penasaran mengapa aku bilang seperti itu. Kisahnya terjadi sekitar 5 tahun yang lalu tepatnya hari Senin tanggal 29 Mei 2007 jam 04.30 di kota Wates. Saat itu aku baru saja menyelesaikan studi pendidikan guru di UNY, kira-kira baru sekitar enam bulanan dan baru bekerja sebagai tenaga bantuan di sekolah tempat ibuku bekerja. Tiap akhir pekan aku pasti pergi menemui pacarku yang Alhamdulillah sekarang menjadi istriku (Henny)di Jogja.
Waktu itu hari Sabtu tanggal 27 Mei 2007 aku melaju ke Jogja dengan mengendarai sepeda motor, sebenarnya Henny sudah melarangku untuk berangkat namun karena keinginan yang kuat maka aku tetap berangkat. Di Jogja kebetulan ada temannya Henny dari Kudus, temanya perempuan. Aku di Jogja tinggal di kos-kosan yang kebetulan masih ada masa kontraknya. Keesokan harinya kami memutuskan untuk pergi main ke pameran buku di gedung Wanitatama jalan Solo, karena aku laki-laki sendiri maka aku mengajak temanku juga, kebetulan dia masih kuliah di UMY. Entah memang kebetulan atau memang sudah ditakdirkan ketika kami hendak solat di mushola, aku secara tak sengaja melihat orang di shaf paling belakang (sedang salat berjamaah) sedang sujud. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan orang tersebut, hanya saja aku melihat kaki kanan orang tersebut memakai kaki palsu. Tetapi saat itu aku menganggap itu hal biasa dan tak menghiraukannya. Tibalah saat malam, kami pulang ke rumah Henny. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Aku sebenarnya mau berpamitan pulang, karena hari yang sudah malam, Henny melarangku. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang pada keesokan harinya, tepatnya Senin pagi karena aku harus masuk kerja. Waktu menunjukan pukul 03.30. Aku bersiap-siap dan kemudian berangkat pukul 03.40 berharap sampai rumah (Purworejo) sebelum pukul 06.00. Tak ada firasat apa-apa saat itu. Setelah diperjalanan akhirnya sampai di kota Wates.
Bagi yang sering jalan Jogja-Purworejo pasti sudah kenal daerah ini. Kalau dari arah Jogja, di kota Wates ini terdapat dua buah perempatan yang di lengkapi dengan traffic light. Setelah melewati traffic light kedua, kalian akan menemukan sebuah tikungan agak tajam. Disitulah peristiwanya terjadi, kecepatan sepeda motorku saat itu 60-70. Aku ingat betul karena aku sempat melihat speddometer sebelum mencapai tikungan. Setelah melihat speddometer aku melihat kendaraan lain di belakangku melalui spion, kebetulan aku di posisi paling depan setelah melaju dari traffic light. Setelah itu aku menutup kaca helmku untuk mencegahnya masuknya pasir ke mataku (mata sering kemasukan pasir) namun karena sudah agak lama helm tersebut ku pakai, kaca helmnya tidak seterang saat baru. Sehingga pandangan agak kurang jelas. Tidak aku sangka setelah melewati tikungan terlihat ada kendaraan(kemungkinan truk/bus) yang melaju dari arah berlawanan. Dan tiba-tiba ada sebuah sepeda motor berusaha mendahului kendaraan tersebut, dan menurutku sepeda motor tersebut terlalu ke kanan saat mendahului. Sehingga posisiku seakan-akan diantara dua kendaaran tersebut. Secara tiba-tiba tanpa sempat mengerem “Bruka” aku bertabrakan dengan sepeda motor tersebut. Saat terjadi tubrukan, di kepalaku sempat terlintas “Wah..aku tabrakan”. Setelah itu aku tak sadarkan diri. Namun selang beberapa waktu, aku tersadar. Saat aku tersadar dalam pikiranku aku harus berusaha ke tepi jalan supaya tidak tertabrak kendaraan lain. Aku ingin beranjak akan tetapi kaki dan tanganku yang sebelah kiri sama sekali tidak bisa aku gerakkan. Kemudian karena penasaran mengapa kok tidak bisa digerakkan, akupun melihat kakiku sebelah kiri. Mungkin kalian tidak percaya, ternyata kaki bagian bawahku sudah hilang (ternyata kata polisi potongan kakiku terlempar sejauh + 5 meter).
Saat itu tanpa rasa shock atau pingsan yang terlintas di kepalaku hanya satu “Aku tak bisa berjalan lagi”. Setelah itu aku baring lagi karena memang kondisinya sangat sakit dan darah mengalir deras hingga tubuhku terasa sangat lemas. Aku melihat kondisi sekitar karena saat itu sudah cukup terang, kira-kira pukul 05.30 dan ternyata posisiku berada di tepian jalan dan helmku sudah terlepas. Waktupun semakin berlalu dan banyak warga yang sengaja melihat kejadian tersebut. Disitu aku melihat ada polisi berpakaian preman sedang mengatur lalu-lintas, karena kondisiku yang semakin lemas akupun memanggil-manggi polisi itu sambil mengangkat tangan kananku (kaki dan tangan kanan tidak terluka) sambil minta tolong. Aku ingat benar polisi itu berkata “Sabar mas…sabar”. Dalam posisi tersadar, aku terbaring kira-kira 15 menit di jalanan.  Kemudian datanglah mobil polisi (sejenis mobil Suzuki Jimny)akupun diangkat dan dimasukkan ke dalam bagian belakang mobil tersebut tepatnya di lantai mobil karena joknya cukup sempit. Kemudian aku di bawa ke RSUD Wates. Kondisi saat itu tersadar terus, tapi aku merasakan kalau darahku sudah tinggal 50%. Aku sangat cemas kalau-kalau aku kehabisan darah. Kemudian di rumah sakit aku di mintai no telp, saat itu aku bingung harus memberikan no telp siapa. Akhirnya aku memutuskan untuk memberikan no telp pacarku (Henny) walaupun dengan resiko pasti akan shock. Perawat pun menelponya dan memberitahu bahwa aku kecelakaan. Saat itu handphone masih ada di saku, kemudian Henny menelepon ke handphonku dan sempat aku angkat, namun karena aku tidak kuat menjawab akhirnya handphone tersebut aku serahkan pada perawat rumah sakit.
Karena kondisi yang tidak memungkinkan akhirnya aku dirujuk ke RS dr Sardjito. Disana Henny sudah menunggu bersama dengan orang tuanya, aku tidak ingat ada siapa lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar karena aku dimasukkan ke ruang gawat darurat. Di sana aku menunggu lama sampai kira-kira pukul 12.00 siang. Akhirnya orang tuanya Henny menyarankan untuk dirujuk ke RS khusus tulang yaitu RS dr Soeharso yang berada di kota Solo. Tepat pukul 13.00 aku dibawa ke Solo. Sesampainya di Solo, ternyata tidak bisa langsung di lakukan tindakan dioperasi karena posisi “Hb” darahku cukup rendah sehingga perlu di tranfusi agar kembali normal. Akupun dimasukkan ke dalam kamar rawat inap menunggu keesokan harinya. Malam itu yang kurasakan hanya sakit yang luar biasa, aku tidak sadar jika Henny menunggui disebelahku. Keesokan harinya pukul 06.00 aku dibawa ke ruang operasi, ternyata disana sudah banyak pasien yang menunggu di operasi. Mungkin karena kondisiku yang cukup parah sehingga aku dioperasi pada giliran terakhir. Tindakan operasi waktu itu di mulai sekitar pukul 12.00, akupun tak sadar karena dibius total. Kata Henny dan keluargaku, aku baru selesai dioperasi pukul 18.00. Setelah itu aku di rawat di rumah sakit selama kurang lebih 40 hari. Dan akhirnya aku menjadi seperti saat sekarang ini, dimana aku harus memakai kaki palsu supaya bisa beraktifitas. Awalnya cukup risih, namun kini aku sudah terbiasa memakai kaki palsu. Yang jadi pertanyaanku sampai sekarang “Mengapa aku harus melihat seseorang memakai kaki palsu tepat sehari sebelum kejadian?”