HeWi foundation control office :

Gubug HeWi foundation
Dsn. Pajangan RT 01 RW 16, Wedomartani, Kec Ngemplak, Kab Sleman.
D.I.Yogyakarta Indonesia
c.p 081578832020 / 085643830602
e-mail : hewifoundation@gmail.com

Selasa, 24 Februari 2015

Penderita Tumor Butuh Bantuan

TUMOR, mendengar kata tersebut pasti kita akan berpikiran tentang sebuah penyakit yang cukup membahayakan, apalagi jika dimensinya cukup besar. Namun demikian apa sebenarnya tumor tersebut?.

Dalam bahasa medis, tumor adalah terbentuknya neoplasma yang disebabkan oleh pertumbuhan atau regenerasi sel tubuh yang tidak wajar. Namun, pengertian tumor semacam ini bisa jadi sangat sulit dimengerti oleh masyarakat umum.
Bayangkan begini. Pada tangan Anda tiba-tiba muncul sebuah benjolan yang aneh. Nah, benjolan  dalam organ tertentu dalam tubuh Anda itulah yang disebut dengan tumor.

Benjolan tersebut muncul karena tidak normalnya pertumbuhan sel dalam organ tersebut. Idealnya, sel baru berfungsi untuk menggantikan sel lama yang sudah waktunya "pensiun". Akan tetapi karena sel baru yang menggantikan sel lama tersebut muncul secara tidak seimbang, akibatnya memicu terjadinya penyakit tersebut.

Karena muncul benjolan, maka hal itu juga menganggu keseimbangan fungsi organ itu sendiri. Akibatnya, organ tak berfungsi sebagaimana seharusnya dan mempengaruhi kondisi tubuh secara umum. 

Sebagaimana dialami oleh Ny Nunik Hardaningsih dimana ia sudah menderita tumor cukup lama dan selama menderita penyakit tersebut belum pernah ada penanganan medis yang serius. Hal ini disebabkan karena keterbatasan ekonomi sehingga tidak mampu untuk menjalani pengobatan. Alih-alih untuk berobat, untuka kebutuhan sehari-hari saja masih kekurangan.

Saat crew HeWi foundation mendatangi rumah Ny.Nunik terlihat rumahnya sangat kurang layak, dinding rumah yang semi permanen serta lantai rumah yang masih tanah. Hal ini menyebabkan penderitaan Ny.Nunik semakin menjadi.

Saat ini pasien tersebut telah dirujuk ke RSUP dr Sardjito Yogyakarta, dan sarankan untuk segera dioperasi, mengingat kondisinya sudah mengkhawatirkan. 
Namun demikian besarnya biaya baik saat operasi maupun pasca operasi dirasa sangat memberatkan bagi keluarga, mengingat pekerjaan dari suami pasien hanya seorang buruh di pasar.

Dengan demikian maka HeWi foundation mengajak rekan-rekan semua yang ikhlas menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu Ny.Nunik dalam menjalani pengobatan.
Berikut profil dari Ny.Nunik


Nama              : Nunik Hardaningsih
Umur               : 51 tahun
Alamat            : Jl Selis I RT 003 RW 005 Bandung, Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah
Pekerjaan       : Ibu Rumah Tangga
Diagnosa        : Tumor Padat
Nama Suami   : Waluyo
Pekerjaan       : Buruh di pasar
Total biaya yang dibutuhkan : Kurang lebih Rp 15.000.000,- (Perkiraan)


Donasi dapat langsung ditranfer ke rek. Dompet Peduli HeWi foundation (jangan lupa untuk menambahkan nominal angka 8 pada digit terakhir).
Atau dapat disalurkan langsung ke sekretarian HeWi foundation dengan menghubungi no 0815-7883-2020.
Bisa juga dengan memberikan langsung kepada pasien denga alamat yang tertera di atas.

Kamis, 19 Februari 2015

Diremehkan, Pengusaha Ini Menaiki Becak Serahkan Sedekah 300 Juta


Jangan sekali-kali menilai seseorang yang baru kita temui hanya dari penampilan fisiknya. Jangan pernah mengagumi seseorang yang baru pertama kali ditemui hanya lantaran mobil yang dinaiki, jas keren yang dikenakan atau wajah nan rupawannya.
Sebaliknya, jangan meremehkan seseorang hanya dari penampilan fisiknya yang sederhana. Sebab, Allah Ta’ala melalui Rasulullah sudah menyarankan agar kita menilai seseorang dari kualitas agama dan akhlaknya.
Terkisah di sebuah daerah yang sedang mengumpulkan dana untuk membangun masjid. Bertahun-tahun panitia berupaya mengumpulkan dana dengan berbagai cara, nyatanya penduduk setempat belum tergerak hatinya. Alhasil, pembangunan pun berhenti.
Hingga suatu hari datanglah seorang dengan penampilan ala kadarnya ke rumah ketua panitia pembangunan masjid. Setelah menjawab salam, ketua panitia terlebih dahulu melihat ke halaman rumahnya sebelum mempersilakan tamunya untuk duduk.
Ia ingin memastikan, kendaraan apa yang dipakai oleh tamunya yang berpenampilan tak meyakinkan itu. Setelah menyapu seisi halaman dengan pandangannya dan tak dijumpai motor ataupun mobil, rupanya terbersit dalam benaknya, “Ngapain orang miskin ini datang ke rumah?”
Setelah berbincang beberapa menit, tamu yang nampak miskin itu bertanya, “Berapa dana yang dibutuhkan untuk merampungkan pembangunan masjid itu?” Dengan nada meremhkan, sang ketua panitia pembangunan masjid menjawab santai, “Sekitar 300 junta sih…”
Tamu itu pun berpamit sembari menyerahkan nomor ponsel. Pesannya sebelum pergi, “Kalau ada waktu, tolong sempatkan ke Kantor Agama. Besok atau lusa. Sebelum datang, hubungi saya di nomor tersebut.” Lanjutnya berpesan, “Semoga ada rezeki untuk menyelesaikan pembangunan masjid ini.”
Malamnya, ketua panitia berkisah kepada panitia lain tentang kejadian yang dialaminya sore itu. Mendengar kisah tersebut, ada yang menimpali dengan ketus, “Ah, abaikan saja orang itu. Dapat uang dari mana sehingga ia bisa bersedekah untuk masjid kita?!”
Alhasil, siang harinya sang ketua panitia tak berniat mendatangi Kantor Agama setempat sebab perasaan meremehkan itu.
Qadarullah, ada salah satu jamaah masjid yang minta ditemani ke show room untuk mengambil mobil yang sudah dipesan beberapa bulan lalu. Maka berangkatlah keduanya menuju show room yang letaknya tak jauh dari Kantor Agama.
Selesai urusan di show room, keduanya bergegas pulang. Namun, sang ketua panitia berkata kepada rekannya itu, “Gimana kalau kita hubungi orang yang katanya mau nyumbang itu?” Meski hendak menolak sebab meragukan, sang rekan akhirnya mengiyakan.
“Assalamua’alaikum,” kata ketua Panitia pembangunan masjid melalui telepon.
Lanjutnya setelah mendengar jawaban, “Pak, jadi memberikan sumbangan?”
“Tapi,” lanjutnya dengan nada sombong, “Saya tunggu jam 11 tepat di Kantor Agama.” Ancamnya kemudian, “Jika bapak terlambat, saya enggan menunggu sebab banyak urusan lain.”
Jam sebelas lewat lima menit, ketika ketua panitia dan rekannya itu hendak pulang, datanglah sosok yang ditunggu menaiki becak.
Begitu sampai di dekat kedua orang yang telah menunggunya, sosok sederhana itu langsung berkata, “Maaf saya terlambat. Mari langsung masuk ke Kantor Agama.” Ia pun berlalu, diikuti dua orang yang tengah menunggunya.
Sesampainya di dalam, ia mengeluarkan sejumlah uang dari tasnya sembari meminta petugas Kantor Agama untuk menghitung uang sekaligus membuat surat serah terima. Katanya santai, “Saya menyumbang atas nama Hamba Allah. Tidak usah ditulis nama saya. Pencatatan ini hanya sesuai perintah al-Qur’an untuk mencatat semua transaksi.”
Kemudian yang membuat kedua orang itu terhenyak, jumlah uang yang diserahkan untuk sedekah pembangunan masjid itu, jumlahnya tepat tiga ratus juta. Hal itu pula yang membuat keduanya malu sebab meremehkan sosok yang nampak miskin itu.
Rupanya, sosok sederhana itu adalah seorang pengusaha sukses. Beliau menjalankan usaha perkebunan kopi. [Pirman] 

Minggu, 15 Februari 2015

JASA MEMBELIKAN MAKANAN UNTUK PENUNGGU PASIEN RUMAH SAKIT

Bagi Anda penunggu pasien di rumah sakit yang tidak bisa meninggalkan pasien untuk sekedar membeli makanan, Kami siap membantu. 

Cukup dengan SMS/WA ke no 0815-7883-2020.
Format SMS/WA :
beli : (pesanan Anda)
ke : (nama dan alamat tujuan)

Contoh :
beli : sate ayam 2 porsi+nasi (Sate Samirono)
ke : Dedi Pav. Amarta 211 Sardjito
(Jangan lupa menuliskan pesanan dan alamat dengan jelas)

Pembayaran dilakukan saat pesanan sudah disampaikan.

Biaya jasa antar Rp 10.000/jenis dan Rp 5.000 untuk jenis kedua dst.

Jam operasional (sementara)
pukul 16.00 s/d 21.00 WIB 

SMS ONLY!

supported by : HLC (HeWi Laundry and Courier)

Minggu, 06 April 2014

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah, Diganti 1000 Kali Lipat

Kisah nyata ini terjadi di Jawa Tengah. Hari itu, seorang lelaki tengah mengengkol vespanya. Tapi tak kunjung bunyi. “Jangan-jangan bensinnya habis,” pikirnya. Ia pun kemudian memiringkan vespanya. Alhamdulillah... vespa itu bisa distarter.
“Bensin hampir habis. Langsung ke pengajian atau beli bensin dulu ya? Kalau beli bensin kudu muter ke belakang, padahal pengajiannya di depan sana,” demikian kira-kira kata hati lelaki itu. Ke mana arah vespanya? Ia arahkan ke pengajian. “Habis ngaji baru beli bensin.”

“Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,” kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas sedekah.

Setelah menerangkan tentang keutamaan sedekah, Sang Kyai mengajak hadirin untuk bersedekah. Lelaki yang membawa vespa itu ingin bersedekah juga, tetapi uangnya tinggal seribu rupiah. Uan g segitu, di zaman itu, hanya cukup untuk membeli bensin setengah liter.

Syetan mulai membisikkan ketakutan kepada lelaki itu, “Itu uang buat beli bensin. Kalo kamu pakai sedekah, kamu tidak bisa beli bensin. Motormu mogok, kamu mendorong. Malu. Capek.”

Sempat ragu sesaat, namun lelaki itu kemudian menyempurnakan niatnya. “Uang ini sudah terlanjur tercabut, masa dimasukkan lagi? Kalaupun harus mendorong motor, tidak masalah!”

Pengajian selesai. Lelaki itu pun pulang. Di tengah jalan, sekitar 200 meter dari tempat pengajian vespanya berhenti. Bensin benar-benar habis.

“Nah, benar kan. Kalo kamu tadi tidak sedekah, kamu bisa beli bensin dan tidak perlu mendorong motor,” syetan kembali menggoda, kali ini supaya pelaku sedekah menyesali perbuatannya.


Tapi subhanallah, orang ini hebat. “Mungkin emang sudah waktunya ndorong.” Meski demikian, matanya berkaca-kaca, “Enggak enak jadi orang susah, baru sedekah seribu saja sudah dorong motor.”

Baru sepuluh langkah ia mendorong motor, tiba-tiba sebuah mobil kijang berhenti setelah mendahuluinya. Kijang itu kemudian mundur.

“Kenapa, Mas, motornya didorong?” tanya pengemudi Kijang, yang ternyata teman lamanya.
“Bensinnya habis,” jawab lelaki itu.
“Yo wis, minggir saja. Vespanya diparkir. Ayo ikut aku, kita beli bensin.”

Sesampainya di pom bensin, temannya membeli air minum botol. Setelah airnya diminum, botolnya diisi bensin. Satu liter. Subhanallah, sedekah lelaki itu kini dikembalikan Allah dua kali lipat.

“Kamu beruntung ya” kata sang teman kepada lelaki itu, begitu keduanya kembali naik Kijang.
“Untung apaan?”
“Kita menikah di tahun yang sama, tapi sampeyan sudah punya 3 anak, saya belum”
“Saya pikir situ yang untung. Situ punya Kijang, saya Cuma punya vespa”

“Hmm.. mau, anak ditukar Kijang?”
Mereka kan ngobrol banyak, tentang kesusahan masing-masing. Rupanya, sang teman lama itu simpati dengan kondisi si pemilik vespa.

Begitu sampai... “Mas, saya enggak turun ya,” kata pemiliki Kijang. Lalu ia menerogoh kantongnya mengeluarkan sebuah amplop.

“Mas, titip ya, bilang ke istrimu, doakan kami supaya punya anak seperti sampeyan. Jangan dilihat di sini isinya, saya juga belum tahu isinya berapa,” bonus dari perusahaan itu memang belum dibukanya.

Sesampainya di rumah. Betapa terkejutnya lelaki pemilik Vespa itu. Amplop pemberian temannya itu isinya satu juta rupiah. Seribu kali lipat dari sedekah yang baru saja dikeluarkannya.

Sungguh benar firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261).

[Kisah Nyata Keajaiban Sedekah ini disarikan dari Buku “Kun Fayakun 2” karya Ust. Yusuf Mansur] 
sumber : http://rahasia-sedekah.blogspot.com/2013/09/kisah-nyata-keajaiban-sedekah-diganti.html