HeWi foundation for leg amputation
adalah program bantuan bagi para penyandang disabilitas khususnya amputasi kaki
meliputi : bantuan kaki palsu, program kemandirian, bantuan motivasi
HeWi foundation for children care
adalah program bantuan untuk anak-anak
meliputi : bantuan untuk pengobatan, bantuan siswa miskin, dll
HeWi foundation for humanity
adalah program bagi sesama yang sedang tertimpa musibah/bencana.
meliputi : bantuan dana, bantuan barang
Gerak Barble (Gerakan Bantu para Difable) adalah suatu gerakan sosial yang tujuan utamanya memberikan bantuan kepada penyandang disabilitas khususnya amputasi kaki. Namun kami tidak menutup mata jika ada yang memerlukan bantuan di luar kriteria tersebut yang tentunya disesuaikan dengan kemampuan kami. Dengan motto “Satu untuk Sesama” diharapkan dapat bermanfaat khususnya bagi para penyandang disabilitas amputasi kaki dan masyarakat pada umumnya. Gerak Barble … Bergerak bantu para kaum difable!
HeWi foundation control office :
Gubug HeWi foundation
Dsn. Pajangan RT 01 RW 16, Wedomartani, Kec Ngemplak, Kab Sleman.
D.I.Yogyakarta Indonesia
c.p 081578832020 / 085643830602
e-mail : hewifoundation@gmail.com
Dsn. Pajangan RT 01 RW 16, Wedomartani, Kec Ngemplak, Kab Sleman.
D.I.Yogyakarta Indonesia
c.p 081578832020 / 085643830602
e-mail : hewifoundation@gmail.com
Kamis, 27 Februari 2014
Selasa, 11 Februari 2014
Derita si Kaki Putung
SUDAH JATUH MASIH TERTIMPA TANGGA
itulah ungkapan yang cocok bagi para penyandandang disabilitas khususnya
amputasi kaki. Kami atau bahkan semua orang di dunia ini pasti tidak ada yang
ingin mengalami kehilangan kaki atau anggota badan yang lainnya. Tapi takdir
berkata lain, sejatinya kami selalu mengikhlaskan apa yang menjadi kehendakNya.
Namun terkadang ada hal yang dapat mengurangi keikhlasan kami. Salah satu hal
tersebut adalah masih terlalu mahalnya harga peralatan yang seharusnya dapat
membantu kami dalam beraktifitas, semisal kaki palsu.
Harga
alat bantu (kaki palsu) yang terlalu tinggi, menjadikan kaum kami merasa enggan
untuk memakainya dan hanya pasrah dengan keadaan. Perlu diketahui bahwa
rata-rata harga kaki palsu kualitas biasa yaitu Rp 1,5 – Rp 2 juta dengan
jangka waktu pemakaian 2-3 tahun. Coba Anda bayangkan jika ada pengguna kaki
palsu yang baru berusia 20 tahun. Mari kita hitung.
Rata-rata usia manusia 60 tahun.
Sehingga sisa usia tinggal 40
tahun, jika masa penggunaan kaki palsu 3 tahun, maka :
40 thn : 3 = 13,3 dibulatkan
menjadi 13.
Maka ia harus mengganti kaki
palsunya sebanyak 13 kali
Jika dihitung rupiahnya, maka
dana yang harus dikeluarkan yaitu Rp 2.000.000 x 13 = Rp 26.000.000,-
Sebuah angka yang cukup fantastis, terlebih jika bagi orang
yang ekonominya pas-pasan.
Menurut
survey di lapangan, tidak sedikit para penderita amputasi kaki yang hidup dalam
keadaan ekonomi yang pas-pasan. Mereka harus berpikir 2x untuk dapat memiliki
kaki palsu. Perhitungan di atas hanya didasarkan pada harga standar untuk kaki
palsu ukuran lutut ke bawah, bagaimana dengan kaki palsu dengan ukuran sampai
paha? Tentu harganya lebih mahal 2 kali lipat. Belum lagi jika materialnya ada
yang impor, maka harga yang dipatok tentu akan sangat jauh melambung tinggi.
Bahkan ada kaki palsu ukuran sampai paha yang harganya sama dengan harga mobil Avanza baru. Sungguh
sangat ironis, dimana para penyandang disabilitas yang hidupnya sudah menderita
masih ditambah lagi dengan harga alat bantu yang seyogyanya dapat membantu
beraktifitas tapi tak mampu dijangkau karena harga yang mahal.
Maka
kami mengajak saudara-saudara yang bernasib sama tetapi memiliki finansial yang
berkecukupan atau bahkan lebih untuk dapat membantu sesama. Seperti halnya
sebuah ungkapan “Mulailah Dari Diri Sendiri”
kita sesama crew kapal (kaki palsu-red) sebutan untuk pemakai kaki palsu bisa
saling membantu melalui subsidi silang agar saudara-saudara kita yang memiliki
keterbatasan ekonomi dapat memiliki kaki palsu untuk dapat beraktifitas dalam
meningkatkan taraf hidup mereka. Syukur-syukur kami mengetuk para dermawan yang
mau membantu kami dalam melakukan misi peningkatan kesejahteraan bagi para
pengguna kaki palsu.
Kamis, 04 Oktober 2012
Ceritaku.....
Perkenalkan
buat yang belum tahu namaku Widi, aku lahir di Purworejo 28 tahun yang lalu. Sekarang aku tinggal di
Sleman,Yogyakarta bersama istriku (Henny)yang aku nikahi 3 tahun yang lalu.
Kesibukanku setiap hari mengajar anak-anak di SD N Depok 1 dan syukur
alhamdulilah sekarang sudah diangkat menjadi PNS. Mungkin bagi sebagian besar
orang, menjadi seorang PNS adalah hal yang biasa. Namun bagiku hal tersebut
sangat luarbiasa mengingat banyak sekali orang-orang yang sepertiku sangat
susah mendapatkan pekerjaan yang layak. Mungkin kalian penasaran mengapa aku
bilang seperti itu. Kisahnya terjadi sekitar 5 tahun yang lalu tepatnya hari
Senin tanggal 29 Mei 2007 jam 04.30 di kota Wates. Saat itu aku baru saja
menyelesaikan studi pendidikan guru di UNY, kira-kira baru sekitar enam bulanan
dan baru bekerja sebagai tenaga bantuan di sekolah tempat ibuku bekerja. Tiap
akhir pekan aku pasti pergi menemui pacarku yang Alhamdulillah sekarang menjadi
istriku (Henny)di Jogja.
Waktu itu hari
Sabtu tanggal 27 Mei 2007 aku melaju ke Jogja dengan mengendarai sepeda motor,
sebenarnya Henny sudah melarangku untuk berangkat namun karena keinginan yang
kuat maka aku tetap berangkat. Di Jogja kebetulan ada temannya Henny dari
Kudus, temanya perempuan. Aku di Jogja tinggal di kos-kosan yang kebetulan
masih ada masa kontraknya. Keesokan harinya kami memutuskan untuk pergi main ke
pameran buku di gedung Wanitatama jalan Solo, karena aku laki-laki sendiri maka
aku mengajak temanku juga, kebetulan dia masih kuliah di UMY. Entah memang
kebetulan atau memang sudah ditakdirkan ketika kami hendak solat di mushola,
aku secara tak sengaja melihat orang di shaf paling belakang (sedang salat berjamaah)
sedang sujud. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan orang tersebut, hanya saja
aku melihat kaki kanan orang tersebut memakai kaki palsu. Tetapi saat itu aku
menganggap itu hal biasa dan tak menghiraukannya. Tibalah saat malam, kami
pulang ke rumah Henny. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Aku
sebenarnya mau berpamitan pulang, karena hari yang sudah malam, Henny
melarangku. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang pada keesokan harinya,
tepatnya Senin pagi karena aku harus masuk kerja. Waktu menunjukan pukul 03.30.
Aku bersiap-siap dan kemudian berangkat pukul 03.40 berharap sampai rumah
(Purworejo) sebelum pukul 06.00. Tak ada firasat apa-apa saat itu. Setelah
diperjalanan akhirnya sampai di kota Wates.
Bagi yang
sering jalan Jogja-Purworejo pasti sudah kenal daerah ini. Kalau dari arah
Jogja, di kota Wates ini terdapat dua buah perempatan yang di lengkapi dengan traffic light. Setelah melewati traffic light kedua, kalian akan
menemukan sebuah tikungan agak tajam. Disitulah peristiwanya terjadi, kecepatan
sepeda motorku saat itu 60-70. Aku ingat betul karena aku sempat melihat
speddometer sebelum mencapai tikungan. Setelah melihat speddometer aku melihat
kendaraan lain di belakangku melalui spion, kebetulan aku di posisi paling
depan setelah melaju dari traffic light.
Setelah itu aku menutup kaca helmku untuk mencegahnya masuknya pasir ke mataku
(mata sering kemasukan pasir) namun karena sudah agak lama helm tersebut ku
pakai, kaca helmnya tidak seterang saat baru. Sehingga pandangan agak kurang jelas.
Tidak aku sangka setelah melewati tikungan terlihat ada kendaraan(kemungkinan
truk/bus) yang melaju dari arah berlawanan. Dan tiba-tiba ada sebuah sepeda
motor berusaha mendahului kendaraan tersebut, dan menurutku sepeda motor
tersebut terlalu ke kanan saat mendahului. Sehingga posisiku seakan-akan
diantara dua kendaaran tersebut. Secara tiba-tiba tanpa sempat mengerem “Bruka”
aku bertabrakan dengan sepeda motor tersebut. Saat terjadi tubrukan, di
kepalaku sempat terlintas “Wah..aku tabrakan”. Setelah itu aku tak sadarkan
diri. Namun selang beberapa waktu, aku tersadar. Saat aku tersadar dalam
pikiranku aku harus berusaha ke tepi jalan supaya tidak tertabrak kendaraan
lain. Aku ingin beranjak akan tetapi kaki dan tanganku yang sebelah kiri sama
sekali tidak bisa aku gerakkan. Kemudian karena penasaran mengapa kok tidak
bisa digerakkan, akupun melihat kakiku sebelah kiri. Mungkin kalian tidak
percaya, ternyata kaki bagian bawahku sudah hilang (ternyata kata polisi
potongan kakiku terlempar sejauh + 5 meter).
Saat itu tanpa
rasa shock atau pingsan yang terlintas di kepalaku hanya satu “Aku tak bisa berjalan lagi”. Setelah
itu aku baring lagi karena memang kondisinya sangat sakit dan darah mengalir
deras hingga tubuhku terasa sangat lemas. Aku melihat kondisi sekitar karena
saat itu sudah cukup terang, kira-kira pukul 05.30 dan ternyata posisiku berada
di tepian jalan dan helmku sudah terlepas. Waktupun semakin berlalu dan banyak
warga yang sengaja melihat kejadian tersebut. Disitu aku melihat ada polisi berpakaian
preman sedang mengatur lalu-lintas, karena kondisiku yang semakin lemas akupun
memanggil-manggi polisi itu sambil mengangkat tangan kananku (kaki dan tangan
kanan tidak terluka) sambil minta tolong. Aku ingat benar polisi itu berkata
“Sabar mas…sabar”. Dalam posisi tersadar, aku terbaring kira-kira 15 menit di
jalanan. Kemudian datanglah mobil polisi
(sejenis mobil Suzuki Jimny)akupun diangkat dan dimasukkan ke dalam bagian
belakang mobil tersebut tepatnya di lantai mobil karena joknya cukup sempit.
Kemudian aku di bawa ke RSUD Wates. Kondisi saat itu tersadar terus, tapi aku
merasakan kalau darahku sudah tinggal 50%. Aku sangat cemas kalau-kalau aku
kehabisan darah. Kemudian di rumah sakit aku di mintai no telp, saat itu aku
bingung harus memberikan no telp siapa. Akhirnya aku memutuskan untuk
memberikan no telp pacarku (Henny) walaupun dengan resiko pasti akan shock.
Perawat pun menelponya dan memberitahu bahwa aku kecelakaan. Saat itu handphone
masih ada di saku, kemudian Henny menelepon ke handphonku dan sempat aku
angkat, namun karena aku tidak kuat menjawab akhirnya handphone tersebut aku
serahkan pada perawat rumah sakit.
Karena kondisi
yang tidak memungkinkan akhirnya aku dirujuk ke RS dr Sardjito. Disana Henny
sudah menunggu bersama dengan orang tuanya, aku tidak ingat ada siapa lagi. Aku
tidak tahu apa yang terjadi di luar karena aku dimasukkan ke ruang gawat
darurat. Di sana aku menunggu lama sampai kira-kira pukul 12.00 siang. Akhirnya
orang tuanya Henny menyarankan untuk dirujuk ke RS khusus tulang yaitu RS dr
Soeharso yang berada di kota Solo. Tepat pukul 13.00 aku dibawa ke Solo.
Sesampainya di Solo, ternyata tidak bisa langsung di lakukan tindakan dioperasi
karena posisi “Hb” darahku cukup rendah sehingga perlu di tranfusi agar kembali
normal. Akupun dimasukkan ke dalam kamar rawat inap menunggu keesokan harinya.
Malam itu yang kurasakan hanya sakit yang luar biasa, aku tidak sadar jika
Henny menunggui disebelahku. Keesokan harinya pukul 06.00 aku dibawa ke ruang
operasi, ternyata disana sudah banyak pasien yang menunggu di operasi. Mungkin
karena kondisiku yang cukup parah sehingga aku dioperasi pada giliran terakhir.
Tindakan operasi waktu itu di mulai sekitar pukul 12.00, akupun tak sadar
karena dibius total. Kata Henny dan keluargaku, aku baru selesai dioperasi
pukul 18.00. Setelah itu aku di rawat di rumah sakit selama kurang lebih 40
hari. Dan akhirnya aku menjadi seperti saat sekarang ini, dimana aku harus
memakai kaki palsu supaya bisa beraktifitas. Awalnya cukup risih, namun kini
aku sudah terbiasa memakai kaki palsu. Yang jadi pertanyaanku sampai sekarang
“Mengapa aku harus melihat seseorang memakai kaki palsu tepat sehari sebelum
kejadian?”
Selasa, 18 September 2012
Semangat.....walau Kaki Kanannya Harus Pergi.....
Hari Minggu kemarin, aku beserta istriku dan 2 orang teman istriku memulai misi kunjungan ke rumah seorang pasien amputasi. Walaupun di sana kami tidak memberikan bantuan secara materi akan tetapi tujuan kami ke sana yakni untuk berbagi informasi yang mungkin bisa dijadikan referensi bagi pasien dalam mengarungi kehidupannya setelah musibah i
ni terjadi, berbagi pengalaman dalam memakai kaki palsu, rekomendasi tempat dimana kami dapat mendapatkan kaki palsu yang nyaman dipakai, dan hal - hal lainnya yang mungkin tidak terbayangkan dalam hidup apa yang terjadi dibalik musibah ini.
Dalam HEWI Foundation ini kami menyebut para pasien korban amputasi dengan sebutan.....( Apa ya? Ada usul? Yang enak didengar dan tidak terkesan negatif didengar....klo crew bagaimana? Terkesan aneh kah? ) Pasien tersebut masih cukup muda, kelahiran tahun 1988 dan baru memulai karirnya dalam bidang pelayanan masyarakat sekitar kurang lebih 2 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana perasaaannya harus kehilangan kaki kanannya disaat usianya yang masih muda dan disaat usia yang begitu produktif.
Alhamdulillah.... sampai disana, bayangan kami yang wajahnya sedih, tanpa semangat dan putus asa itu tidak tampak pada dirinya.Ia seorang laki-laki yang mempunyai semangat kerja yang tinggi. Sangat jelas terpancar dari raut mukanya yang sangat antusias mendengar pengalaman kami ketika pertama kali menggunakan kaki palsu yang kami beri istilah " KAPAL ". Dengan wajah sumringah dia berujar....." besok masih bisa manjat lagi ni...." kami pun senang mendengar ucapannya. Pembicaraan kami pun mengalir dengan santai dan penuh canda tawa. Seolah - olah penderitaan orang yang baru saja harus kehilanganan kakinya itu tidak terjadi.
O ya sampai lupa menceritakan kronologi kejadiannya, bagaimana hal ini bisa terjadi....
Jadi ceritanya begini....hari itu dia pergi kerja, pekerjaannya berhubungan dengan listrik dan panjat memanjat. Musibah itu datang, ia kesetrum dan terjatuh. Naas kaki kanannya rusak akibat sengatan listrik itu. Tiba di RS, keadaannya kakinya sudah seperti daging yang dimasak. Sehingga syaraf2 nya sudah mengalami kerusakan dan tidak dapat diselamatkan lagi. Jadi mau tidak mau, demi keselamatanya ya terpaksa kakinya harus diamputasi dibawah lutut.
Karena waktu sudah beranjak malam, kami pun berpamitan pulang. Lega rasanya dapat membantu memberikan motivasi kepada teman yang bernasib sama denganku....bernasib sama karena harus kehilangan sebagian anggota tubuhku.
Membantu kan tidak hanya berupa materi saja, masih bisa dalam bentuk lainnya....tapi aku masih punya cita - cita.....suatu saat harus bisa membantu teman - teman yang senasib yang belum bahkan tidak bisa mewujudkan keinginannya mendapatkan "KAPAL" agar dapat beraktifitas seperti sedia kala.
Dalam HEWI Foundation ini kami menyebut para pasien korban amputasi dengan sebutan.....( Apa ya? Ada usul? Yang enak didengar dan tidak terkesan negatif didengar....klo crew bagaimana? Terkesan aneh kah? ) Pasien tersebut masih cukup muda, kelahiran tahun 1988 dan baru memulai karirnya dalam bidang pelayanan masyarakat sekitar kurang lebih 2 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana perasaaannya harus kehilangan kaki kanannya disaat usianya yang masih muda dan disaat usia yang begitu produktif.
Alhamdulillah.... sampai disana, bayangan kami yang wajahnya sedih, tanpa semangat dan putus asa itu tidak tampak pada dirinya.Ia seorang laki-laki yang mempunyai semangat kerja yang tinggi. Sangat jelas terpancar dari raut mukanya yang sangat antusias mendengar pengalaman kami ketika pertama kali menggunakan kaki palsu yang kami beri istilah " KAPAL ". Dengan wajah sumringah dia berujar....." besok masih bisa manjat lagi ni...." kami pun senang mendengar ucapannya. Pembicaraan kami pun mengalir dengan santai dan penuh canda tawa. Seolah - olah penderitaan orang yang baru saja harus kehilanganan kakinya itu tidak terjadi.
O ya sampai lupa menceritakan kronologi kejadiannya, bagaimana hal ini bisa terjadi....
Jadi ceritanya begini....hari itu dia pergi kerja, pekerjaannya berhubungan dengan listrik dan panjat memanjat. Musibah itu datang, ia kesetrum dan terjatuh. Naas kaki kanannya rusak akibat sengatan listrik itu. Tiba di RS, keadaannya kakinya sudah seperti daging yang dimasak. Sehingga syaraf2 nya sudah mengalami kerusakan dan tidak dapat diselamatkan lagi. Jadi mau tidak mau, demi keselamatanya ya terpaksa kakinya harus diamputasi dibawah lutut.
Karena waktu sudah beranjak malam, kami pun berpamitan pulang. Lega rasanya dapat membantu memberikan motivasi kepada teman yang bernasib sama denganku....bernasib sama karena harus kehilangan sebagian anggota tubuhku.
Membantu kan tidak hanya berupa materi saja, masih bisa dalam bentuk lainnya....tapi aku masih punya cita - cita.....suatu saat harus bisa membantu teman - teman yang senasib yang belum bahkan tidak bisa mewujudkan keinginannya mendapatkan "KAPAL" agar dapat beraktifitas seperti sedia kala.
Langganan:
Postingan (Atom)

